Perilaku Kolektif
Perilaku kolektif (Macionis, 1989:528) adalah tindakan, pemikiran,
dan perasaan-perasaan (emotions) yeng meliputi sejumlah besar orang dan yang
tidak sesuai dengan norma-norma sosial yang ada.
Perilaku kolektif
memiliki tiga karakteristik:
1.
Interaksi
sosial sangat terbatas.
2. Ikatan sosil tidak jelas
3.
Norma-normanya
lemah dan tidak konvensional
Bentuk Prilaku kolektif
Perilaku
kerumunan
Perilaku kerumunan (Macionis,
1989:253) adalah orang-orang yang berkupul secara temporer yang memiliki
beberapa perhatian yang sama dan sering saling mempengaruhi satu dengan yang
lainnya. Herbert Blumer mengklasifikasi kerumunan dengan beberapa tipe: 1. Kerumunan sambil lalu, contonhya orang-orang kebetulan sama-sama berada dipantai, atau sama-sama sedang mengamati suatu peristiwa/kejadian.
2. Kerumunan konvensional adalah kerumunan yang terdiri dari sekumpulan orang yang berada di suatu tempat untuk suatu tujuan yang sesuai dengan aturan yang berlaku. Seperti kerumunan penumpang di terminal bis, bandara udara atau pelabuhan, para pengunjung pasar atau toko.
3. Kerumunan ekspresif, kerumunan dimana orang meluapkan emosinya seperti pada saat orang sedang menari, menyanyi, menonton sepak bolan dan lain sebagainya.
4. Kerumunan bertindak, termasuk tindakan destruktif atau penyimpangan.
Gerakan Sosial
Gerakan Sosial (Soeyono, 2005:3) adalah perilaku dari sebagian
anggota masyarakat untuk mengoreksi kondisi yang banyak menimbulkan problem
atau tidak menentu, untuk menghadirkan suatu kehidupan yang lebih baik.
Gerakan sosial
memiliki tiga karakteristik (Macionis, 1989:595)
- Organisasi internal yang tingkatanya sangat tinggi
- Gerakan berlangsung dalam waktu yang lama
- Sengaja mencoba menpertajam organisasi masyarakat itu sendiri.
Menurut Giddens
(1989) berbeda dengan perilaku kolektif (lihat, Sunarto, 2000:203), gerakan
sosial ditandai oleh adanya tujuan atu kepentingan bersama. Kepentingan itu
dapat berupa mengubah atau mempertahankan masyarakat atau institusi yang ada di
dalamnya.
Tingkatan Gerakan Sosial
1. Emergence
Gerakan sosial yang muncul
karena kejadian yang tidak disangka-sangka atau darurat
2. Coalecence
Setelah gerakan sosial muncu,
langkah berikutnya adalah koalisi sejumlah individu ke dalam organisasi yang
secara aktif memasuki kehidupan publik, termasuk mengembangkan kepemimpinan
baru, memformulasikan taktik dan kebijakan, dan membangun moral positif dan merekrut
anggota baru. Pada level ini gerakan sosial mungking akan mendorong tindakan
kolektif demonstrasi, penyadaran publik dan lain sebagainya.
3. Bureaucratization
Setelah mapan, gerakan sosial
akan mengembangkan organisasi formal seperti birokrasi dan lain sebagainya.
4. Decline
Gerakan sosial secara inherent
bersifat dinamis. Suatu ketika akan mapan namun pada saat yang lain akan
mengalami dinamika baru.
Referensi:
repository.binus.ac.id/content/O0042/O004266595.ppt
Tidak ada komentar:
Posting Komentar