Kamis, 19 Juni 2014

Perilaku Kolektif dan Gerakan Sosial



Perilaku Kolektif

Perilaku kolektif (Macionis, 1989:528) adalah tindakan, pemikiran, dan perasaan-perasaan (emotions) yeng meliputi sejumlah besar orang dan yang tidak sesuai dengan norma-norma sosial yang ada.
Perilaku kolektif memiliki tiga karakteristik:
1.       Interaksi sosial sangat terbatas.
2.       Ikatan sosil tidak jelas
3.       Norma-normanya lemah dan tidak konvensional

Bentuk Prilaku kolektif

Perilaku kerumunan
Perilaku kerumunan (Macionis, 1989:253) adalah orang-orang yang berkupul secara temporer yang memiliki beberapa perhatian yang sama dan sering saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Herbert Blumer mengklasifikasi kerumunan dengan beberapa tipe: 
1. Kerumunan sambil lalu, contonhya orang-orang kebetulan sama-sama berada dipantai, atau sama-sama   sedang mengamati suatu peristiwa/kejadian. 

2. Kerumunan konvensional adalah kerumunan yang terdiri dari sekumpulan orang yang berada di suatu tempat untuk suatu tujuan yang sesuai dengan aturan yang berlaku. Seperti kerumunan penumpang di terminal bis, bandara udara atau pelabuhan, para pengunjung pasar atau toko. 

3. Kerumunan ekspresif, kerumunan dimana orang meluapkan emosinya seperti pada saat orang sedang menari, menyanyi, menonton sepak bolan dan lain sebagainya. 

4. Kerumunan bertindak, termasuk tindakan destruktif atau penyimpangan.

Gerakan Sosial

Gerakan Sosial (Soeyono, 2005:3) adalah perilaku dari sebagian anggota masyarakat untuk mengoreksi kondisi yang banyak menimbulkan problem atau tidak menentu, untuk menghadirkan suatu kehidupan yang lebih baik.
Gerakan sosial memiliki tiga karakteristik (Macionis, 1989:595)
  1. Organisasi internal yang tingkatanya sangat tinggi
  2. Gerakan berlangsung dalam waktu yang lama
  3. Sengaja mencoba menpertajam organisasi masyarakat itu sendiri.
Menurut Giddens (1989) berbeda dengan perilaku kolektif (lihat, Sunarto, 2000:203), gerakan sosial ditandai oleh adanya tujuan atu kepentingan bersama. Kepentingan itu dapat berupa mengubah atau mempertahankan masyarakat atau institusi yang ada di dalamnya.

Tingkatan Gerakan Sosial

      1. Emergence
    Gerakan sosial yang muncul karena kejadian yang tidak disangka-sangka atau darurat

      2. Coalecence
     Setelah gerakan sosial muncu, langkah berikutnya adalah koalisi sejumlah individu ke dalam organisasi  yang secara aktif memasuki kehidupan publik, termasuk mengembangkan kepemimpinan baru, memformulasikan taktik dan kebijakan, dan membangun moral positif dan merekrut anggota baru. Pada level ini gerakan sosial mungking akan mendorong tindakan kolektif demonstrasi, penyadaran publik dan lain sebagainya.

      3. Bureaucratization
    Setelah mapan, gerakan sosial akan mengembangkan organisasi formal seperti birokrasi dan lain  sebagainya.

      4. Decline
    Gerakan sosial secara inherent bersifat dinamis. Suatu ketika akan mapan namun pada saat yang lain akan mengalami dinamika baru.


Referensi:
repository.binus.ac.id/content/O0042/O004266595.ppt



Tidak ada komentar:

Posting Komentar